Jingga di Balik Bintang (Bagian ke-4)




 
Lalu Surya melanjutkan memotong rerumputan di pinggir kali dekat sawah Bapaknya. Segala jenis rumput tak terkecuali menjadi incaran celurit di tangannya. Karung putih itu akhirnya telah penuh terisi. Diikatlah dengan tali raffia yang sedari berangkat tadi telah Surya kantongi di saku. Kaki dan tangan yang tiada luput dari kotornya lumpur persawahan membuatnya memutuskan untuk menceburkan diri ke kali yang sangat jernih di bawah kaki gunung Braja.
 
Surya bergumam dengan lirih, “Sudah lama aku tak mandi di kali ini, mumpung tidak ada orang. Langsung nyebur aja lah. Ku yakin gerah dunia ini akan terobati dengan cepat.”
 
Kaus merah hasil pemberian calon legislatif itu dilepas dan dilemparkannya di bebatuan. Tanpa menunggu aba-aba, terdengarlah gejolak air tertimpa tubuh Surya yang gempal. Byur byur, sungguh bahagia menikmati potongan surga yang  tepat berada di depan mata. Dayung mendayung seluruh tubuh Surya membuat airnya lama kelamaan menjadi keruh. Belum sadar dirinya, belum terasa bahwa sorotan ciptaan Gusti yang namanya sama dengannya mulai meredup. Seketika semilir angina mulai turun dari atas gunung menapaki relif-relif di bawahnya. Sampai di mana si manusia itu berada terdengarlah bisikan mesra.
 
Suara itu terdengar, “ Surya oh Surya, apa kau lupa dengan kelinci-kelincimu, kasihan mereka menunggu kepulanganmu. Cepatlah kembali dengan rumputmu! Hari akan segera berganti, Surya.”
 
Terkejut sekali dengan suara yang mebisikinya. Ternyata Surya sedang tertidur di bawah pohon rindang. Mata yang merah dan wajah kusut mewarnai kisah sore hari ini. Kaus yang hanya ditutupkan ke badannya segara saja ia pakai dengan tergesa-gesa. “Kreeeekkkk”, bunyi kaus yang sobek di bagian ketiak kiri.
 
“Astagfirullah, sobek. Jadi bolong kayak gini kausku. Mana dingin lagi nih ketiak, kasihan si pohon-pohon ketiakku. Hehe.” Semakin menjelang magrib mungkin kewarasan Surya mulai terganggu. Berjalan melangkahkan kaki menuju rumah dengan cepat. Gendongan karung rumput itu di pundaknya di sepanjang jalan. Setibanya di rumah ia tak langsung masuk, menuju ke belakang rumah tempat kandang kelinci-kelincinya berada. Para kelinci mulai heoboh melihat kedatangan tuannya mebawakan kudapan kesukaaan mereka. Kelinci yang sangat lucu dan imut tak heran banyak orang yang membli kelinci-kelinci ini dari Surya. Sampai-sampai anak-anak di kampungnya menjuluki Surya dengan Mas Kelinci. Entah apa karena dia punya banyak kelinci atau mukanya mirip kelinci. Yang pasti dirinya sangat bahagia, karena hamper setiap hari rumahnya tak pernah sepi dari anak-anak kampungnya yang ingin melihat peliharaannya itu.
 
“Makan yang banyak ya kasihku, kelinciku manisku, pujaan hatiku. Kau yang selalu ada di hidupku. Nah kan mulai gak waras lagi aku. Bersihin badan dulu ah. Sampai jumpa esok ya, Bunga Hatiku.” Katanya sambil berjalan menuju kamar mandi.
 
Setelah selesai, satu keluarga ini berjalan menuju langgar untuk menemuai panggilan Tuhan. Gusti Allah yang selalu mengingatkan bahwa hidup itu punya waktu. Hidup punya waktu, waktu untuk menikmati dunia dan esok yang fana. Seperti biasa sosok yang paling getol mengangtkan seisi rumah untuk selalu bersembahyang tiada lain iya Surya muda. Mungkin hal ini telah mendarah daging dalam dirinya. Ketika sewaktu kecil ia ingat betapa amarah Bapak dan Ibunya yang menggebu-gebu saat balighnya lupa menunaikan perintah-Nya. Lalu, sejenak ia berpikir. Kedua orang tuanya saja melihatnya tidak salat sebegitu marah sekali. Apalagi Sang Pencipta alam semesta jika mengetahui ciptaan-Nya lalai akan kewajiban-Nya.
 
Langgar Ar-Rohim adalah masjid kecil tapi syukur terucap dengan banyaknya jamaah. Muda sampai tua tak pernah absen untuk sembahyang. Riuh anak-anak kecil pun tak luluh terdengar. Walau suara bisingnya memenuhi langit-langit masjid. Suara teriakan, tawa,  kaki terinjak, badan terjatuh, bahkan tangisan semua menyatu mengeruhkan suara takbir imam. Sampai salam juga bising itu tak kunjung diam. Tapi begitulah anak-anak, bersyukur mereka sudah dibiasakan pergi ke masjid sedari kecil. Hal yang penting untuk membiasakan anak melakukan suatu kebaikan.
 
Bakda salat isya para jamaah tak langsung beranjak dari tempat mereka bersila. Seorang berbaju serba putih dan jenggot yang telah memutih itu berdiri tegap mencari celah untuk kedepan Bapak/Ibu jamaah. Bapak itu adalah Bapak Haji Mahmud, ustadz dari desa tetangga yang sering kali diundang takmir untuk memberikan tausiyah setiap malam Jumat. Lajunya ia imbangi dengan tolehan kanan dan kiri sembari menyalami setip orang yang dilewatinya.
 
Pak Haji membuka tausiyahnya dengan salam, “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”
 
Dilanjutkannya dengan ucapan syukur ats kesempatan nikmat dan hidayah-nya serta salawat kepada Nabi. Pada malam ini beliau bercerita tentang Islam yang damai. Betapa agama ini berabad-abad lalu diajarkan bahwa islam yang haqiqi adalah islam yang selalu menjaga perdamaian dan kebaikan. Bukan malah ikut-ikutan tersulut api amarah, karena itulah yang dimau si orang jahat ini. Alangkah sangat indah semua agam di dunia ini hidup berdampingan dengan rasa toleransi yang tnggi sesuai batasan agama masing-masing.
 
Celetuk salah satu jamaah, “Tapi jikalau mereka yang mulai duluan Pak Haji?”
 
“ Kuncinya sabar Mas. Jangan lah kita mudah terbakar. Gusti Allah saja mudah untuk mengampuni hambanya. Masak kita yang hanya sebatas hambanya tak mampu. Tapi kalau dia terlalu berlebihan. Ajaklah ia bertatap muka dengan cara yang santun, nasihatilah dia! Jangan kau nasihati di tempat umum! Sama sahaja kau mempermalukannya.” Pak Haji menjawab dengan lembut.
 
Satu jam tausiyah rutinan itu berlalu. Pulanglah satu demi satu orang-orang di dalamnya menyisakan langgar dengan lampu yang remang diirngi desiran jangkrik malam. Sungguh syahdu malam itu, menutup hari dengan jutaan bintang yang bertaburan di angkasa.
 
“Gusti, kami bersyukur atas nikmat yang telah lalu dan yang akan dating. Berkahilah waktu kami. Esok, aku serahkan garisan hidup kami kepada Engkau dengan tulus hati. Jauhkanlah kami dari segala mara bahaya dan kepung kami dengan ribuan kebaikan. Sungguh kisah manusia siapa yang tahu? Hanya usaha, doa, dan selanjutnya biarkan bumi dan semesta merekamnya.” Doa Surya dalam hati.

Keluarga Surya kembali memasuki rumah gedheg mereka. Ditaruhkannya sajadah di atas meja. Dicantelkannya peci hitam di paku yang terpaku di tiang rumah. Begitu pun Bapak dan Ibunya. Mereka menggantikan pakaian khusus menemui Gusti Allah dengan pakaian usang yang banyak robek sana-sini dan tlutuh getah tanaman-tanaman sawah.

“Lhe, wis gek turua! Biar besuk bisa bangun pagi. Bapa dan Ibu butuh bantuanmu di sawah Bolabang sana.” Berkata ibu Surya.

“Inggih Ibu. Saya segera tidur. Ini mau ganti baju dulu, wudu, lalu langsung tidur.” Sahut Surya kepada ibunya.

Terlelaplah seisi desa dengan hanya bertemankan lampu tintir yang asapnya memenuhi kamar-kamar. Lampu tintir yang setiap ada angin besar masuk di sela-sela gedheg siap terhembus dan mati kapan pun. Apalagi kalau minyak tanah di dalamnya habis. Bisa gelap padam semalam utuh. Makhluk-makhluk Tuhan yang ketika siang mereka bersembunyi, kini menampakkan wajahnya. Sungguh Gusti Allah menciptakan semesta dengan bagian dan peranan masing-masing yang tak pernah merugikan satu sama lain. Yang ada untuk dimengerti dan disyukuri.  


Jingga di Balik Bintang (Bagian Ke-3)




Ternyata malam itu hujan kembali meneteskan airnya. Diiringi tiupan angin yang memaksa masuk rumah lewat lubang-lubang gedheg yang tak lagi rapat itu. Bayangan hitam yang sedari tadi berada di teras lalu melepaskan jasnya. Dilepas jas plastik basah itu perlahan tak terdengar bersuara. Masuk bersalam tanpa ada yang membalas. Menenteng plastik hitam yang terlihat penuh berjejalan, berdesakan di dalam. Plastik itu ditaruh di atas meja sambil mencari-cari kedua anak rumah ini. Sampailah ia di kamar, terlihatlah kakak beradik yang telah tidur beralaskan kasur usang di atas tikar daun pandan, berselimutkan kain jarik coklat satu buah yang dipakai berdua. Segera saja ia mendekati kedua anak tersebut dan tangannya berusaha meraih kain jarik yang sudah terlempar untuk menghalau dinginnya malam. Tangannya membentangkan kain, diselimutkannya di atas tubuh mereka. Jari jemarinya menuju rambut Jingga yang terurai, dengan penuh rasa iba dirinya mengelus-elus manja hingga ke kulit kepala.

Ia berkata pelan, “Rupanya Putra-putriku sudah tidur sangat lelap. Barangkali sedang bermimpi, mau jadi apa mereka di masa yang akan datang. Cita-cita kalian harus tinggi ya Lhe, Nduk! Bapak mau kalian jadi anak kebanggaan Bapakmu ini dan Ibumu. Cepat tumbuh besar dan tambah pintar. Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain.”

Ternyata pria paruh baya itu adalah Bapak dari Bintang dan Jingga. Panggil saja dengan Pak Surya, lelaki berperawakan tinggi dengan kumis yang tebal dan uban yang lebat. Empat puluh tahun telah Pak Surya lewati dengan banyak hal dari mulai masa kecilnya, bujangnya, menikahnya, sampai merawat kedua belahan hatinya sendiri. Lumayan banyak cerita hidup Pak Sur yang mungkin kalau dibukukan akan menjadi cerita yang menarik. Kisahnya mulai terasa indah ketika bertemu dengan pujaan hatinya kala itu. Pandangan pertama yang ia tahu hanya dari lagu itu ternyata dirinya merasakannya sendiri. Hatinya jatuh dalam pesona Sang Kembang Desa yang santun lagi menawan. Ditambah lagi dengan ketaatannya dalam sembahyang membuat Pak Sur semakin menjadi-jadi rasa cintanya. Jikalau kata pepatah bahwa cinta itu memabukkan, iya memanglah nyata adanya. Sampai-sampai Si Kembang Desa selalu membayangi pikiran Si Bujang Surya dahulu. Rupanya Surya muda adalah orang yang pemalu. Tak pernah berani ia menyatakan perasaan terpendamnya. Cukup menjadi pengagum rahasia sampai bendungan rasa kagumnya tumpah kemana-mana. Hingga waktu tak bisa menunggu, ia takut Sang Gadis Salihah itu direnggut oleh orang lain. Bertemulah mereka di sawah wetan untuk mencari rumput di pinggir sungai.

Surya memanggil Sang Gadis sambil berlari kecil ke arahnya, “ Nimas Ayu, Nimas Ayu.”

Gadis itu mencoba mencari dari mana arah suara itu. Tengok kanan dan kiri tiada dapat ia tahu. Menolehlah ia ke belakang dengan perlahan. Setengah terkejut dirinya melihat ada pemuda yang meneriakinya sambil memegang sabit di tangan kanannya. Sontak membuatnya berlari menjauh karena ia berpikir pemuda tersebut akan berbuat buruk kepadanya.

Surya tetap memanggil perempuan itu, “Nimas Ayu, Nimas Ayu.”

“Dhuh Gusti, apa yang Mas mau? Aku akan pulang. Cepatlah pergi, jangan mengikuti diriku. Niat jahatmu akan ku beri tahukan seluruh warga desa nanti.” Sahut si Gadis ketakutan.

Kembali Surya berkata, “ Lhoh siapa yang mau berniat jahat padamu di siang bolong ini Nimas. Aku Cuma ingin bertanya padamu, itu saja.”

“Lalu buat apa celuritmu kau sapakan padaku. Kau pikir celurit itu tak tajam? Halah pasti kau berdusta! Semoga kau dapatkan azab pedih nanti. Asal kau tahu Gustiku tidak pernah tidur.” Tegas Sang Gadis.

Seakan petir menyambar ruang pikir Surya mendengar perkataan Sang Gadis akan celurit di tangannya. Tak disangka hampir dua kali lapangan bola dirinya mengejar sang Gadis. Karena kelelahan ia putuskan untuk menyudahi pengejaran yang mengalami kesalah pahaman ini.

Surya berbicara pada dirinya sendiri, “Oalah Surya-Surya, kok aku tadi bawa celurit segala. Pantas saja ia lari tunggang langgang melihatku. Gagal sudah aku ingin tahu namanya. Bodoh sekali aku, tenagaku terbuang sia-sia. Dhuh Gusti, mana aku mengejarnya sejauh ini. Haaaaaahhhhhh, gagal total, gagal total. Ini pasti gara-gara aku tak bismillah dahulu.”

Menyesal ia bukan kepalang sambil berkali-kali kakinya ia hentakkan di tanah. Dengan masih bergumam sendirian, Surya kembali menuju karung tempatnya mengambil rumput untuk kelinci-kelincinya.



Alhamdulillah udah bagian ketiga gaes. Mohon maaf kalau ceritanya agak tidak jelas ya. Namanya baru belajar. :)

Nantikan kelanjutan ceritanya ya. Sampai berjumpa dengan Jingga di Balik Bintang bagian keempat. See you.... 

Jingga di Balik Bintang (Bagian ke-2)



       Telapak kakinya tak berhenti menapaki permukaan tanah yang telah membubur. Tetap tegas melangkah menahan tas dipundaknya ditambah lagi dengan pisang yang telah diberi oleh Mbah Reja. Pisang  yang memang merupakan buah kesukaannya sedari kecil. Tak pernah bosan sedikitpun dan semua jenis pisang, dirinya sangat suka. Apalagi pisang yang ia bawa adalah pisang paling tersohor di desa. Bukannya terlalu menghiperbolakan buah ini. Tapi memang Mbah Reja ini adalah empunya pohon pisang di desa. Latar belakang mbah yang penuh dengan kisah membuat Bintang terkagum-kagum dengan orang yang sudah banyak ubannya itu.

       Dari ujung bentangan sawah terlihat gapura merah bertuliskan dusun Kusuma di kaki Gunung Braja. Langkahnya pun dipercepat, tak peduli lagi ia dengan rintik hujan yang membasahi bajunya. Meneruskan pandangannya menuju persimpangan jalan  lalu terdiam ia mengingat suatu hal. Setelah beberaapa detik berpikir akhirnya Bintang teringat.

        Sebelum berangkat sekolah Jingga berkata, " Mas nanti siang jangan lupa beliin mie kesukaanku di warung ya. Udah lama Jingga gak makan Mie. Jingga pengin banget Mas. Apalagi Bapak hari ini gak masak. Tadi aja kita cuman makan roti seribuan yang Bapak beli dari sayur. Alhamdulillah tapi tetap enak kok Mas. Ini Mas aku punya uang 2.500 yang aku kumpulin dari uang saku sekolah selama 5 hari. Jangan lupa ya Mas Bintang!"

         Bintang menyahut, " MasyaAllah, bangga Mas punya adik kaya Jingga. Jadi anak yang pintar ya biar bisa banggain Bapak dan almarhumah Ibu. InsyaAllah sepulang sekolah Mas Bintang bakal beliin buat kamu. Mas beli dua deh nanti iya, soalnya Mas juga punya sisa saku lima hari kemarin. Mas bakal beli mie rasa soto kesukaan Jingga. Kita terus masak bareng, lalu dimakan deh. Heeeem, Mas Bintang gak sabar."

         Dengan ingatannya di pagi itu. Bintang membalikkan badan berjalan ke arah warung yang telah ia lewati sejauh 10 meter itu. Pelepah daun pisang itu ditaruh di tanah dan lemparan salam terdengar oleh ibu pemilik warung. Seperti yang sudah-sudah si ibu menanyakan apa yang mau dibeli. Lalu, Bintang membeli dua bungkus mie. Dibayarlah, dibawalah di tangan kanan sambil memegang pelepah pisang pengganti payung itu. Masih berjalan dengan irama yang sama  sampai suara guntur kembali terdengar. Mendung mulai menggelap seakan benar-benar ingin memuntahkan isi perutnya ke bumi. Sadar akan hal itu, Bintang berlari sekencang mungkin seperti atlit lari perlombaan PON. Lalu, rumah berdinding anyaman bambu mulai utuh nampak di balik pohon jati milik Pak RT. Alas tanah pertama kali yang menyapanya. Kedua, hujan lebat yang telah mebututinya sedari tadi. Ketiga, atap rumah si penahan air, walau ribuan tetes tetap saja menyelinap ke rumah.

        Bintang mengetok pintu, "Assalamualaikum Jingga, tolong bukain pintunya Mas Bintang udah sampai."
       Salam pertama itu belum membuat Jingga mendengar karena riuhnya triliunan nikmat Tuhan yang jatuh.
      Salam kedua terucap dengan tekanan yang lebih kuat, " Assalamualaikum Jingga, ini Mas Bintang mau masuk. Tolong dibukakan pintu ya. Mas udah kedinginan nih." Sambil sesekali mengusap kedua tanggannya yang telah membiru sejak tadi.
         Akhirnya Jingga mendengar, " Mas Bintang sudah pulang? Bentar Mas aku bukakan."

       Masuklah kedua anak itu ke rumah yang segera ditutup rapat-rapat. Bintang melepaskan semua baju basahnya, ia jemur di atas ventilasi jendela agar dapat kering keesokan harinya. Menggigil masih terasa di tengah kehangatan ruang depan. Bibirnya ikut membiru dihantam tinjuan angin bercampur dinginnya air. Melihat Mas Bintang kedinginan, sontak Jingga mengajak untuk memasak mie rasa soto di tungku kayu. Tungku yang mengepulkan asap membuat mereka terbatuk-batuk tapi tertawa-tawa. Melihat Mas Bintang terkena abu di mukanya membuat Jingga tak tahan hingga mie matangnya menjadi sangat lama.Air liur menetes merasakan perut yang sudah meronta-ronta tak sadarkan diri melihat kepulan asap panas dari kuah atas piring.

       Hujan berhenti, siluet sinar senja menyelip di antara lubang-lubang di dinding yang memastikan bahwa mereka harus segera membersihkan diri. Adzan magrib berkumandang, terburu-burulah sepasang kakak adik itu menuju langgar yang berada di barat rumahnya. Malam tiba, kegelapan semakin sunyi. Hanya suara desiran jangkrik dan kodok yang mampu memecahkan keheningan. Terdengar lembaran buku yang terbuka di atas tikar ditemani lampu remang setiap harinya. Jam menujukkan pukul delapan. Jingga menguap berkali-kali di hadapan Bintang. Bintang pun menutup bukunya untuk mengajak Jingga pergi ke kamar.

       Jingga celetuk, " Mas Bapak kok belum pulang-pulang. Apa Bapak gak pulang. Katanya mau bawa oleh-oleh."
        Bintang menjawab pertanyaan Jingga sambil mengelus rambutnya, " Jingga Bapak pasti pulang kok. Kamu tidur aja dulu kan besuk masih sekolah. Kalau kesiangan nanti dimarahin Bu Guru. Pasti Bapak bawa oleh-oleh soalnya Bapak gak pernah bohong Jingga. Buruan yuk bobok nanti mas dongengin cerita Kancil Nyolong Timun."

        Tok Tok Tok.
     Ketukan keras dari pria paruh baya yang tinggi dan tegap di teras. Dengan lancangnya ia membuka pintu dan matanya mengarah ke seluruh bagian rumah. Entah apa yang akan dia lakukan? Plastik hitam yang ia tenteng berisikan apa?


Bersambung..
Nantikan Kisah Jingga dan Bintang di bagian selanutnya ya.

Jingga di Balik Bintang



        Sepulang sekolah, Bintang seperti biasa bergegas kembali ke rumah. Menenteng sepasang sepatu usangnya melewati jalanan aspal yang sudah terkoyak oleh zaman. Ia ingat setahun yang lalu, jalan ini tak semenganga dan bergelombang yang sampai batu-batu di bawahnya menyembul ke permukaan. Berpayungkan rintik air hujan yang turun sejak dari pagi sampai bel pulang berbunyi. Hawa dingin menusuk kulitnya tanpa ampun seolah tak tahu bahwa yang ia hujani adalah kakak Jingga yang dirindukan adik kesayangannya itu.

" Yah, mengapa aku tadi tak membawa jas hujan yang ditaruh Jingga di meja."
"Jadi basah deh kayak gini, mana besuk hari Selasa dan masih harus kupakai lagi." 

         Langkah kakinya mulai cepat dengan guyuran yang menghujam daun pisang yang sempat ia patahkan di pinggir sawah. Ingin ia berhenti sejenak untuk merawat buku-buku sekolah agar tidak basah pikirnya. Tengok kanan kiri mencoba mencari gubug tempat berteduh. Seketika mata tertuju di gubug tengah sawah yang selalu menjadi tempat Bintang beristirahat ketika mencari ikan bersama teman-temannya. Larinya tak terbendung lagi menuju gubug gelap nan reyot yang menyembunyikan siluet hitam. Siluet itu semakin jelas dan besar menggusarkan hati Bintang untuk berteduh di sana. Tapi apa daya dirinya tetap memberanikan diri sambil berharap itu hanyalah karung yang berisi rumput untuk pakan sapi. Kilatan petir dan gelegar suara mengagetkan semua.

"Duuuuaaaarrrrrrr", suara gemuruh di atas langit yang gelap itu.
" Astagfirullah, siapa itu?" teriak Bintang.

     Kilatan petir kedua menyilaukan seluruh persawahan bak listrik 1000 Mega, menambah kegaduhan pada siang itu. Benar saja jantung Bintang berdegup semakin kencang ketika melihat sosok bayangan tadi terlihat jelas di pelupuk matanya. Tersentak, terkejut hingga membuatnya terpeleset. Celana merah pudar itu  kotor oleh bubur lumpur yang sedari tadi ia injak dengan kakinya. Tiba-tiba suara menyambar sambil meraih kedua tangan Bintang.

" Waduh, Thole Bintang. Kaget sama simbah kamu? Maafkan simbah! Sampai-sampai kamu terpeleset seperti ini." ujar lelaki tua.

" Mbah Reja nggih ternyata. Saya kira siapa, habisnya tadi dari jauh Simbah hanya terlihat seperti bayangan yang menakutkan." jawab Bintang sambil membersihkan celananya.

" Oh iya Lhe, kamu tadi ndak bawa payung atau jas hujan Ntang?

" Ndak bawa Mbah, tadi kelupaan, padahal Jingga udah nyiapin di atas meja. Huft.

" Ya wis ndak papa. Ditunggu saja ya insyaAllah hujannya sebentar lagi  reda."

" Inggih Mbah, semoga segera reda. Kasihan Jingga pasti udah menunggu di rumah sendirian."

        Selama 15 menit sudah mereka menghabiskan obrolan hangat di tengah terpaan angin dingin dari segala penjuru mata angin. Sambil sesekali menggetarkan seluruh badan karena menggigil tidak karuan. Menggosok-gosokan kedua telapak tangan dan meniup hangat dari mulut juga tak ketinggalan dilakukan. Hingga langit mulai menampakan cahaya lagi dengan tetap dihujani rintikan air yang menciptakan lembaran-lembaran tujuh warna di ufuk timur. Bintang memutuskan untuk segera pulang mengingat perjalanan ke rumah masih cukup jauh. 

"Mbah Reja, saya pamit dulu nggih." pamit Bintang.

"Ati-ati ya Lhe. Ini tak beri pisang Raja Nangka buat adikmu."

" Matur nuwun Mbah."

Bersambung.........

Awal Kelahiranku

Assalamualaikum Sahabat Bumi Tuhan.

Awal adalah sebuah kata yang memulai semua asa. Mengawali perjumpaan kita dalam balutan layar maya yang aku harap Kamu bisa mengerti aku seutuhnya. Walau mungkin nanti kedepannya Engkau merasa tak nyaman membersamaiku. Tetapi tiada apa, karena sebuah persahabatan tak mungkin sempurna jauh dari kata noda.

Selamat menyelami kata "taaruf" denganku. Jangan takut dan risau ya. Aku akan selalu mencoba untuk menjadi sahabat terbaikmu, tapi jangan pernah berharap lebih kepadaku. Ketika kamu ingin bahagia sesempurna dan sebulat bumi, mendekatlah dengan yang menciptakannya. Di lembaran ini, aku hanya ingin menjadi penawar keluh kesah dalam romantika perjalanan manusia yang sungguh berdinamika. 

Oh iya sahabat kita belum berkenalan ya? Biar kita lebih dekat dan nyaman untuk berkisah selanjutnya. Salam hangat dariku, hamba yang rendah dan bersujud ke langit. Namaku Dhiya Restu Putra. Putra dari sepasang insan yang dipertemukan oleh takdir dan cinta, dipisahkan oleh maut. Hari Ahad (pon) pun bersaksi mendengar tangisan pertamaku di bilik dingin kala itu. Sungguh aku tak ingat, bagaimana raut wajah Bapak/Ibuku ketika melihat putra pertama yang dikandung selama 9 bulan lebih itu akhirnya benar-benar menyapa dunia. Ku terka mereka bangga, harapku. Aku pun berniat untuk membuat mereka tersenyum haru melihat putra pertamanya ini kelak. Bertambahnya adik-adik baruku tak  ayal memacu untuk menjadi seorang "Mas" yang memberi jutaan tangis bahagia.

Selamat mengenal diriku dan kisah-kisah insan di Bumi Tuhan iya Sahabat! :) 

Puisi : Senja Itu

Senja itu anaknya mesen dan jajan yang dipinta mengucap jumpa untuk dirasa dan  dicinta lalu dibayar kepada yang mencipta.  Restueltungguri,...