Jingga di Balik Bintang (Bagian ke-5)



            Terdengar suara kayu-kayu yang dibakar di tungku dengan api yang berkobar. Suara ulekan lemper batu yang berbunyi “tuk-tuk-tuk” menggilas bawang merah, bawang putih, dan garam menjadi satu. Suara rantang-rantang yang berkelontang. Suara piring dan sendok  yang beradu, bersatu dengan gelas-gelas di atas meja. Itu adalah hal biasa yang dilakukan ketika paginya padi yang sudah bernas dan ranum itu sudah waktunya dipanen. Para ibu Petani akan bangun lebih pagi untuk menyiapkan makanan yang akan dibawa ke sawah. Makanan yang dimasak pun lebih banyak dari biasanya karena akan ada rewang yang akan membantu memanen nanti.

“Lhe, bangun! Sudah Azan Subuh. Nanti telat ke langgarnya.” Ibu membangunkan Surya.

“Whoaaaam.” Surya memaksakan kedua matanya terbuka. Mata yang terlalu lelap tidur di atas tikar pandan dan berselimut kain jarik kawung.

            Surya beranjak menuju padasan wudu di belakang rumah. Lalu, berganti pakaian, kenakan sarung, bersiap untuk berangkat.

“Buk. Bapak mana?” Tanya Surya.

“Bapak sudah duluan, Le. Cepat nyusul sana!” Jawab Ibuk.

“Ibuk ndak salat?” Surya timpali.

“Ndak Le, Ibuk libur dulu. Uwis keburu telat.”

            Surya bergegas keluar rumah, berjalan di sayup-sayup dinginnya pagi dan kabut. Gelap sekali bahkan sampai gulita. Karena memang desa ini belum ada listrik masuk. Hanya lampu tintir yang jadi penerangan. Tak perlu berjalan lama, sampailah di langgar yang jaraknya hanya lima rumah saja dari rumahnya. Terlihat satu lampu tintir yang menerangi seisi langgar dengan bapak-bapak yang mulai berdatangan. Ada bapak-bapak yang seluruh rambutnya sudah berwarna putih. Bapak-bapak yang menua menjadi kakek-kakek sangatlah banyak jadi jamaah langgar. Di antara mereka terdapat kakek-kakek yang paling kuno dan bersejarah di desa ini. Atau orang bilang adalah sebagai sesepuh.

            Kakek itu jalannya tak tegak. rambut dan jenggotnya putih semua. Memakai baju batik coklat, sarung coklat, dan peci hitam yang miring. Sebenarnya, seringkali Surya ingin menegur Sang Kakek karena peci miringnya. Tapi, ia takut kualat berhadapan dengan manusia yang umurnya hampir 100 tahun itu. Ramai para muda dan tua memanggil kakek sesepuh tersebut dengan nama Pak Slamet.

            Pak Slamet sering ditanya seputar umurnya yang awet tua dan sehat badannya. Ia hanya tersenyum dan tertawa menimpali pertanyaan tersebut. Sampai capai ia menimpali orang-orang yang penasaran, sebenarnya apa rahasia Pak Slamet bisa hidup setua ini. Dia selalu dengan suara lantang dan tegar menjawab. “Iya rahasianya adalah, sembahyang. Uwis kuwi thok. Tidak lebih tidak kurang. Jangan ada yang nawar.

***

            Cahaya matahari mulai menyongsong dari ufuk timur. Matahari yang mulai beringsut dari balik gunung dan pepohonan yang rimbun itu menyapa seisi desa, yang bersiap berangkat ke kantor mereka. Ya kantor mereka yang tiada gedung, kursi, kipas angin, bahkan AC pun tidak tersedia. Gedung kantor mereka adalah bercakarnya gunung-gunung dengan lantai tanah humus yang basah karena timpaan air hujan kemarin sore. Langit-langit gedung mereka adalah sebenar-benar langit-langit yang luas tanpa batas dengan lukisan awan dan burung-burung yang bersliweran ke sana kemari. Kipas angin dan AC kantor mereka adalah benar-benar angin yang merupakan petualang sejati. Angin yang berkelana setiap tahunnya dan kini waktunya angin muson barat yang menyapa kantor-kantor mereka.

            Surya sekeluarga membawa bakul-bakul penuh rantang masakan serta sabit-sabit gergaji ke sawah Bolabang. Jika dikira sawah mereka dekat, itu salah. Sawah mereka harus ditempuh dengan jalan kaki sekitar 500 meter atau hampir satu kilometer jauhnya. Jarak itu jika ditempuh dengan naik sepeda motor mungkin akan sangat cepat, tetapi berhubung pada zaman itu belum banyak warga desa punya sepeda motor ya mau tidak mau harus berjalan kaki.

            Di setiap setapak jalan menuju sawah banyak para kantoran-kantoran yang juga berangkat. Persimpangan pertama sebelum keluar desa bertemu dengan rombongan Bapak Sutar. Persimpangan kedua bertemu dengan rombongan Bapak Sunar. Persimpangan ketiga sebelum keluar desa bertemu dengan rombongan Bapak Sular. Nama bapak-bapak tersebut hampir mirip bukan? Memang zaman dahulu nama yang berawalan dengan ”Su” sangat banyak. Coba kalau dicek pasti ada puluhan di desa ini.

“Lhoh, Pak Prabu. Sawahnya panen juga?” Begitulah orang-orang desa memanggil bapak Surya dengan nama Pak Prabu. Keren sekali nama itu. Bahkan artinya apalagi, lebih keren dari nama-nama yang berawalan “Su” lainnya.

“Inggih Pak Sular, betul sekali.” Sahut Pak Prabu dengan senyuman paginya.

            Seperti biasa kebiasaan orang-orang desa ketika bertemu dengan tetangga, kerabat, atau siapa pun adalah jagongan. Ngobrol sana-sini, membahas masalah itu, membahas masalah ini. Ibu-ibu pun tidak mau kalah ngrasani sana-sini, si A, si B, si C. Semua tak lepas dibicarakan. Tetapi, Ibu Surya berbeda. Dia hanya melontarkan senyuman-senyuman saja ketika diajak ibu-ibu lain mengobrol asik itu. Karena, menurutnya walau membicarakan orang lain itu hal yang mengasikkan, tapi kalau yang dirasani mendengarnya pasti sakit rasanya. Jadi, Ibu Surya tidak mau melarutkan diri dari bergunjing bersama kaum perempuan itu.

      “Mangga Pak rumiyin inggih!” Satu-persatu rombongan-rombongan itu berpisah. Rombongan yang terakhir sampai di sawah adalah rombongan Bapak, Ibu, dan Surya. Sawah mereka yang paling jauh di antara rombongan tersebut. Harus melewati jembatan tua yang katanya dahulu dibangun oleh orang-orang Belanda untuk membawa hasil-hasil pertanian dari rakyat jelata. Jembatan itu di sisi seberang masih dapat dilihat tulisan Belanda yang sudah tidak jeas terbaca. Berangkakan tahun 1920, masih sangat jelas terbaca.

            Akhirnya Surya sekeluarga sampai di sawah mereka. Di sana sudah sedia dua orang lelaki paruh baya berumur 30-an dan 40-an tahun. Mereka berdua adalah saudara atau kerabat dari Pak Prabu yang akan membantu proses pemanenan padi.

Wis suwe ta?” Pak Prabu buru-buru menyapa mereka dengan senyumannya. Lemparan senyumnya itu mengisyaratkan sebuah bentuk rasa syukur yang luar biasa atas nikmat Gusti Allah yang dipanen hari itu juga.

 Sakuntawis.”

Wis ayo pada sarapan dulu.”

Nikmatnya bukan kepalang, makan di bawah gubug ditemani semilir angin lembah. Suara-suara burung menjadi musik alam tanpa butuh radio. Sarapan pun sudah selesai. Mereka berbagi tugas penempatan untuk menebas padi-padi yang sudah menguning itu. Bapak di bagian atas. Ibu di bagian kiri. Dua kerabat itu di bagian tengah dan belakang. Lalu, Surya memilih bagian kanan, karena yang paling sedikit. Surya tersenyum bebas mendapatkan bagiannya itu.

Satu jam, dua jam, tiga jam, dan berjam-jam selanjutnya telah berjalan. Matahari sudah semakin terik menandakan proses pemanenan padi harus selesai. Betul saja, pohon padi yang jumlahnya ribuan itu sudah tertebas. Kemudian, diangkati ditali lalu dibawa pulang. Padi itu diangkut pulang dengan mmenggunakan mobil pickup yang menjadi langganan warga desa untuk mengangkut apa pun. Mobil pickup itu hanya dapat berhenti di seberang jembatan saja. Maka, padi-padi yang terikat diangkut dengan tenaga manusia melewati jembatan kemudian dilemparka di atas bak mobil.

Kepulangan telah menunjukkan waktunya. Diangkutlah padi-padi itu, dimobilkan sampai rumah Surya. Dirontokkan padi-padi itu dengan erek yang masih dengan tenaga manual yakni dengan menggenjotnya. Rontoklah bulir-bulir padi yang siap dijemur selama beberapa hari kedepan.

“Alhamdulillah, ngereke wis rampung. Besuk tinggal jemur sampai kering.” Penuh syukur Pak Prabu ucapkan.

“He’eh Dhe.” Sahut kerabat mereka.

“Lhe, Surya sini bantu Ibuk mengeluarkan makanan ini.”

  “Inggih Buk, sekedap.” Surya melangkah menuju pawon mengambil nasi, piring, lauk, roti, dan minuman. Ia keluarkan semua menuruti perintah ibunya. Perjamuan sore itu, sungguh syahdu walau lauknya hanya tempe goreng dan sayur tempe serta kerupuk. Keluarga ini memang hobi makan tempe dengan segala varian. Untung saja minumannya bukan terbuat dari tempe juga.

 

 

Sampai jumpa di bagian keenam Sobat!!!

           

PUISI: PANCA INDRA



PANCA INDRA


nyatanya mata

tak pernah bisa

dipaksa

melihat

 

nyatanya hidung

tak pernah membendung

bertarung

membau

 

nyatanya telinga

tak pernah perasa

suara

mendengar

 

nyatanya lidah

tak pernah bertuah

tumpah

 mengecap

 

nyatanya kulit

tak pernah melilit

pelit

meraba

 

Wonogiri, 3 Juni 2020


Gambar: Pixabay

PUISI: TEH TONGSAR



TEH TONGSAR


Teh celup ku  sruput

Srut, ah, seger

Ginasthel

Legi

Panas

Kenthel

Teh TongSar

Teh TjiWang

Teh Tong Tji

Rasa Sari Wangi

Ku teguk seteguk

Tak henti-henti

Barang siapa yang ingin ku beri

Kemari, ku suguhi

Teh TongSar ini

 

Wonogiri, 2 Juni 2020


Puisi : Senja Itu

Senja itu anaknya mesen dan jajan yang dipinta mengucap jumpa untuk dirasa dan  dicinta lalu dibayar kepada yang mencipta.  Restueltungguri,...