CERPEN 1: PETAI-PETAI MAGRIB


PETAI-PETAI MAGRIB

 

Warung mie ayam dan bakso pertama ternyata sudah ludes habis hanya menyisakan bakso saja. Aku melenguh kesal sembari menggembungkan pipiku yang miskin daging. Aku penggemar mie ayam, benar-benar penggemar. Kebiasaanku jika telah makan di suatu warung yang makanannya terasa sedap, maka aku tak akan mencari warung lain yang belum tentu rasanya seiya sekata dengan lidahku ini. Maklum sewaktu masih SD karena menonton ajang memasak di televisi menjadikan jiwa khayal anak-anakku menjadi sangat mengembang. Bahkan berkali-kali aku bereksperimen dengan ibuku membuat makanan-makanan: roti, sayur, lauk-pauk, dan lain-lain. Kebiasaan menilaiku bak juri-juri pun sering kulakukan, tetapi sebatas dalam hati, lalu menyesali.

Motore ingkang pundi Mas?” Seorang lelaki memakai rompi  menanyaiku dengan ramah.

Aku jawab penuh sopan, “Jupiter ingkang ijem punika, Pak.” Aku keluarkan uang 2000an yang harus terbayarkan, padahal makan pun tak jadi. Hangus sudah.

Lajuku kuarahkan menuju timur kota mencari warung-warung lain. Nihil. Waktu semakin cepat sedang perut ini semakit kecut dan mengkerut. Mendung juga semakin bergelayut. Musim hujan masih menjadi tuan rumah di bulan ini. Timur kota tak kutemui satu pun warung makanan kesukaanku. Barat kota, mungkin akan kutemukan. Begitu kataku dalam hati.

Sebelum rintikan air jatuh di aspal-aspal jalanan yang retak itu langsung ku belokkan haluan ku, menyebrang jalan menuju ke arah barat kota. Ku pikir hujan akan membiarkanku memarkirkan motor terlebih dahulu, lalu duduk sembari menunggu mangkok yang mengeluarkan uap-uap bumbu.

Tes-tes-tes, gerimis menyapaku yang menunggu lampu merah menjelma hijau. Pada lampu merah kedua gerimis menjelma menjadi hujan yang tersenyum manis menghujami wajahku dan sekujur tebuhku. Beruntung sekali tetesan-tetesan yang menyerbu bibirku. Aku lumat bersama angin –angin senja yang liar, ganas, dan kencang. Aku telan. Tahu saja bahwa tenggorokan ini telah kering kerontang oleh teriknya hari.

Tiga puluh prosen tubuh ini basah. Sebelum bertambah lima prosen lagi, kutemukan warung tenda kecil berwarna hijau di pinggir jalan. Kecil mungil. Tidak apalah. Daripada semakin sempurna tubuhku dihujani oleh hujan, sebaiknya warung itu saja yang menjadi pelabuhanku.

Rona mangkok yang terisi oleh untaian tepung panjang yang panas menghampiriku, ditemani gelas bening berisi air seduhan teh panas. Hingga mangkok telah bersih. Gelas telah menjadi bening kembali.

Hujan telah reda. Kupustuskan untuk pulang. Mengendarai sepeda motor melewati bawah pohon yang menggugurkan air-air sisa hujan. Sejuk sekali udaranya. Aku buka kaca helmku untuk membau semerbak aroma tanah dan bangunan yang basah.

Di pinggir jalan, di bawah atap toko yang tutup samping sekolah dasar, aku melihat ada seorang nenek tua yang sedang duduk meringkuk menahan terpaan angin dari kendaraan-kendaraan yang lalu lalang. Bis-bis, sepeda motor, truk, mobil, semua berebut mengisi celah jalan raya yang tak terisi. Klakson bersahut-sahutan meneror kendaraan-kendaraan yang ingin menyalip satu sama lain. Juga-juga lampu kuning yang menyorot jalanan aspal, memantulkan cahayanya hingga menyapu wajah dari sang nenek.

Berhenti. Aku rem roda belakang dan roda depan bersamaan sampai sedikit membuat bunyi, seperti pembalap-pembalap saja. Membuat beberapa pasang mata melirikku dengan keheranan. Sang nenek tua itu tak sedikit pun pandangannya lari dari barang dagangannya.

Mbah sadean punapa Mbah?” Jawabku dengan bahasa Jawa Krama alus yang menjadi bahasa wajibku berbicara dengan orang yang terlampau jauh dari usiaku. Walau, aku masih belum lancar, tetap akan kuusahakan penuh berbicara dengan tingkat tutur paling tinggi dalam bahasa Jawa itu. Memang merepotkan. Tapi, dengan itu aku telah menjadi hamba sang nenek. Takzim dan hormatku kepadanya.

Sadean sayur, Le.” Sang nenek menjawabku dengan lirih. Ia melanjutkan, “arep tuku apa, Le?

Wonten Pete Mbah?” Aku bertanya pertanyaan yang tidak harus dijawab, karena sebenarnya telah jelas terlihat petai-petai hijau di atas terpal plastik tipis bersama sayuran yang lain. Pete-pete itu sangat menggodaku sejak aku turun dari sepeda motor. Ia melambai-lambai lalu bilang ambilah aku, belilah aku, masaklah aku!. Petai adalah makanan favorit yang jika dimasak dengan digoreng di minyak panas, rasanya tiada duanya.

Enek, Le. Iku! Arep tuku pira?” Sang nenek menunjuk petai-petai yang jaraknya sedikit  jauh dari tempat duduknya. “Yen, semene iku regane sepuluh ewu, yen tuku loro dadi enembelas wae.”

Sae boten Mbah punika?”

Ya apik na Le. Iki petene uwis mateng.”

Uang yang kutaruh di celana kanan itu ada enam ribu. Kucari-cari di dompet ada uang merah keungu-unguan. Aku julurkan uang kepada sang nenek sambil ia membungkus dua ikat petaiku dengan plastik hitam.

Sampun dangu Mbah sadean wonten mriki?” Aku menatap wajahnya yang sudah kendor sana-sini.

Uwis suwe benget simbah iki. Simbah saben esuk iku dodolan ning pasar kana kae. Banjur yen wis awan, simbah pindah ning pinggir kene iki.”

Boten kesel, Mbah?” Pertanyaanku terlontar lagi. “Boten wonten griya kemawon?” Lanjutku.

Ngapa kesel Le. Lha wong simbah awit enom gaweane iya kaya ngene. Dadi uwis biasa. Yen aneng omah malah ngrepoti anak putu wae. Mendhing mumpung awak isik sehat iya kudu dienggo tumandang.” Itu adalah jawaban yang selalu kutemui ketika orang-orang menanyai orang-orang dengan umur lanjut masih bekerja dengan giat.

Terbesit olehku apakah memang nantinya pikiranku akan sama menjelma seperti sang nenek. Selalu merasa takingin direpotkan. Padahal dirinya sendiri tak tahu ada hal yang lebih merepotkan jika terjadi suatu hal yang tidak dinginkan terjadi kepadanya. Awalnya kupikir anaknya durhaka, tak mau mencegah ibunya sendiri menerjang terik matahari dan dinginnya hujan. Pikiranku kalut, berpikir yang tidak-tidak tentang anak sang nenek.

Simbah sampun sonten ngoten puniki, boten kondur?”

Magrib Le, mengko ana bis sing biasane tak nunuti mantuk. Iya sok-sok bubar Isyak barang.” Semakin menjadi-jadi empatiku kepadanya. Seorang nenek tua, berdiri pun tak tegap, bajunya telah mengembun terciprati air yang turun dari atap. Sore itu benar dingin. Tanganku membiru-kecu. Tangan sang nenek tak berubah, tetap coklat oleh sinar matahari dan hawa kota yang membakar.

Hampir magrib, lampu-lampu taman mulai menyala. Lampu-lampu di alun-alun mulai memamerkan warna-warninya.

Mbah, kula wangsul rumiyin. Sehat terus inggih Mbah. Punika wonten teh taksih anget mangga simbah unjuk!”

Sepeda motorku kugenjot, kunyalakan. Melajulah aku menembus remang-remang jalanan dan lantunan-lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dari masjid Agung.

Hingga saat ini, simbah sang nenek masih kutemui di tempat sama. Tapi belum sempat kubeli petainya lagi. 

  TAMAT
 

Puisi : Senja Itu

Senja itu anaknya mesen dan jajan yang dipinta mengucap jumpa untuk dirasa dan  dicinta lalu dibayar kepada yang mencipta.  Restueltungguri,...