PETAI-PETAI
MAGRIB
Warung mie ayam dan bakso pertama ternyata sudah
ludes habis hanya menyisakan bakso saja. Aku melenguh kesal sembari
menggembungkan pipiku yang miskin daging. Aku penggemar mie ayam, benar-benar
penggemar. Kebiasaanku jika telah makan di suatu warung yang makanannya terasa
sedap, maka aku tak akan mencari warung lain yang belum tentu rasanya seiya
sekata dengan lidahku ini. Maklum sewaktu masih SD karena menonton ajang
memasak di televisi menjadikan jiwa khayal anak-anakku menjadi sangat
mengembang. Bahkan berkali-kali aku bereksperimen dengan ibuku membuat
makanan-makanan: roti, sayur, lauk-pauk, dan lain-lain. Kebiasaan menilaiku bak
juri-juri pun sering kulakukan, tetapi sebatas dalam hati, lalu menyesali.
“Motore
ingkang pundi Mas?” Seorang lelaki memakai rompi menanyaiku dengan ramah.
Aku jawab penuh sopan, “Jupiter ingkang ijem punika, Pak.” Aku keluarkan uang 2000an yang
harus terbayarkan, padahal makan pun tak jadi. Hangus sudah.
Lajuku kuarahkan menuju timur kota mencari
warung-warung lain. Nihil. Waktu semakin cepat sedang perut ini semakit kecut
dan mengkerut. Mendung juga semakin bergelayut. Musim hujan masih menjadi tuan
rumah di bulan ini. Timur kota tak kutemui satu pun warung makanan kesukaanku. Barat
kota, mungkin akan kutemukan. Begitu kataku dalam hati.
Sebelum rintikan air jatuh di aspal-aspal jalanan
yang retak itu langsung ku belokkan haluan ku, menyebrang jalan menuju ke arah
barat kota. Ku pikir hujan akan membiarkanku memarkirkan motor terlebih dahulu,
lalu duduk sembari menunggu mangkok yang mengeluarkan uap-uap bumbu.
Tes-tes-tes, gerimis menyapaku yang menunggu lampu
merah menjelma hijau. Pada lampu merah kedua gerimis menjelma menjadi hujan
yang tersenyum manis menghujami wajahku dan sekujur tebuhku. Beruntung sekali
tetesan-tetesan yang menyerbu bibirku. Aku lumat bersama angin –angin senja
yang liar, ganas, dan kencang. Aku telan. Tahu saja bahwa tenggorokan ini telah
kering kerontang oleh teriknya hari.
Tiga puluh prosen tubuh ini basah. Sebelum bertambah
lima prosen lagi, kutemukan warung tenda kecil berwarna hijau di pinggir jalan.
Kecil mungil. Tidak apalah. Daripada semakin sempurna tubuhku dihujani oleh
hujan, sebaiknya warung itu saja yang menjadi pelabuhanku.
Rona mangkok yang terisi oleh untaian tepung panjang
yang panas menghampiriku, ditemani gelas bening berisi air seduhan teh panas.
Hingga mangkok telah bersih. Gelas telah menjadi bening kembali.
Hujan telah reda. Kupustuskan untuk pulang. Mengendarai
sepeda motor melewati bawah pohon yang menggugurkan air-air sisa hujan. Sejuk
sekali udaranya. Aku buka kaca helmku untuk membau semerbak aroma tanah dan
bangunan yang basah.
Di pinggir jalan, di bawah atap toko yang tutup samping
sekolah dasar, aku melihat ada seorang nenek tua yang sedang duduk meringkuk menahan
terpaan angin dari kendaraan-kendaraan yang lalu lalang. Bis-bis, sepeda motor,
truk, mobil, semua berebut mengisi celah jalan raya yang tak terisi. Klakson
bersahut-sahutan meneror kendaraan-kendaraan yang ingin menyalip satu sama
lain. Juga-juga lampu kuning yang menyorot jalanan aspal, memantulkan cahayanya
hingga menyapu wajah dari sang nenek.
Berhenti. Aku rem roda belakang dan roda depan
bersamaan sampai sedikit membuat bunyi, seperti pembalap-pembalap saja. Membuat
beberapa pasang mata melirikku dengan keheranan. Sang nenek tua itu tak sedikit
pun pandangannya lari dari barang dagangannya.
“Mbah sadean
punapa Mbah?” Jawabku dengan bahasa Jawa Krama alus yang menjadi bahasa wajibku berbicara dengan orang yang
terlampau jauh dari usiaku. Walau, aku masih belum lancar, tetap akan
kuusahakan penuh berbicara dengan tingkat tutur paling tinggi dalam bahasa Jawa
itu. Memang merepotkan. Tapi, dengan itu aku telah menjadi hamba sang nenek. Takzim
dan hormatku kepadanya.
“Sadean sayur,
Le.” Sang nenek menjawabku dengan lirih. Ia melanjutkan, “arep tuku apa, Le?”
“Wonten Pete
Mbah?” Aku bertanya pertanyaan yang tidak harus dijawab, karena sebenarnya
telah jelas terlihat petai-petai hijau di atas terpal plastik tipis bersama
sayuran yang lain. Pete-pete itu sangat menggodaku sejak aku turun dari sepeda
motor. Ia melambai-lambai lalu bilang ambilah
aku, belilah aku, masaklah aku!. Petai adalah makanan favorit yang jika
dimasak dengan digoreng di minyak panas, rasanya tiada duanya.
“Enek, Le.
Iku! Arep tuku pira?” Sang nenek menunjuk petai-petai yang jaraknya
sedikit jauh dari tempat duduknya. “Yen,
semene iku regane sepuluh ewu, yen tuku loro dadi enembelas wae.”
“Sae boten
Mbah punika?”
“Ya apik na
Le. Iki petene uwis mateng.”
Uang yang kutaruh di celana kanan itu ada enam ribu.
Kucari-cari di dompet ada uang merah keungu-unguan. Aku julurkan uang kepada
sang nenek sambil ia membungkus dua ikat petaiku dengan plastik hitam.
“Sampun dangu
Mbah sadean wonten mriki?” Aku menatap wajahnya yang sudah kendor
sana-sini.
“Uwis suwe
benget simbah iki. Simbah saben esuk iku dodolan ning pasar kana kae. Banjur
yen wis awan, simbah pindah ning pinggir kene iki.”
“Boten kesel,
Mbah?” Pertanyaanku terlontar lagi. “Boten
wonten griya kemawon?” Lanjutku.
“Ngapa kesel
Le. Lha wong simbah awit enom gaweane iya kaya ngene. Dadi uwis biasa. Yen
aneng omah malah ngrepoti anak putu wae. Mendhing mumpung awak isik sehat iya
kudu dienggo tumandang.” Itu adalah jawaban yang selalu kutemui ketika
orang-orang menanyai orang-orang dengan umur lanjut masih bekerja dengan giat.
Terbesit olehku apakah memang nantinya pikiranku
akan sama menjelma seperti sang nenek. Selalu merasa takingin direpotkan.
Padahal dirinya sendiri tak tahu ada hal yang lebih merepotkan jika terjadi
suatu hal yang tidak dinginkan terjadi kepadanya. Awalnya kupikir anaknya
durhaka, tak mau mencegah ibunya sendiri menerjang terik matahari dan dinginnya
hujan. Pikiranku kalut, berpikir yang tidak-tidak tentang anak sang nenek.
“Simbah sampun
sonten ngoten puniki, boten kondur?”
“Magrib Le,
mengko ana bis sing biasane tak nunuti mantuk. Iya sok-sok bubar Isyak barang.”
Semakin menjadi-jadi empatiku kepadanya. Seorang nenek tua, berdiri pun tak
tegap, bajunya telah mengembun terciprati air yang turun dari atap. Sore itu
benar dingin. Tanganku membiru-kecu. Tangan
sang nenek tak berubah, tetap coklat oleh sinar matahari dan hawa kota yang
membakar.
Hampir magrib, lampu-lampu taman mulai menyala. Lampu-lampu
di alun-alun mulai memamerkan warna-warninya.
“Mbah, kula
wangsul rumiyin. Sehat terus inggih Mbah. Punika wonten teh taksih anget mangga
simbah unjuk!”
Sepeda motorku kugenjot, kunyalakan. Melajulah aku
menembus remang-remang jalanan dan lantunan-lantunan ayat-ayat suci Al-Quran
dari masjid Agung.
Hingga saat ini, simbah
sang nenek masih kutemui di tempat sama. Tapi belum sempat kubeli petainya
lagi.