Ternyata malam itu hujan kembali
meneteskan airnya. Diiringi tiupan angin yang memaksa masuk rumah lewat
lubang-lubang gedheg yang tak lagi
rapat itu. Bayangan hitam yang sedari tadi berada di teras lalu melepaskan
jasnya. Dilepas jas plastik basah itu perlahan tak terdengar bersuara. Masuk bersalam
tanpa ada yang membalas. Menenteng plastik hitam yang terlihat penuh berjejalan,
berdesakan di dalam. Plastik itu ditaruh di atas meja sambil mencari-cari kedua
anak rumah ini. Sampailah ia di kamar, terlihatlah kakak beradik yang telah
tidur beralaskan kasur usang di atas tikar daun pandan, berselimutkan kain
jarik coklat satu buah yang dipakai berdua. Segera saja ia mendekati kedua anak
tersebut dan tangannya berusaha meraih kain jarik yang sudah terlempar untuk
menghalau dinginnya malam. Tangannya membentangkan kain, diselimutkannya di
atas tubuh mereka. Jari jemarinya menuju rambut Jingga yang terurai, dengan
penuh rasa iba dirinya mengelus-elus manja hingga ke kulit kepala.
Ia berkata pelan, “Rupanya
Putra-putriku sudah tidur sangat lelap. Barangkali sedang bermimpi, mau jadi
apa mereka di masa yang akan datang. Cita-cita kalian harus tinggi ya Lhe,
Nduk! Bapak mau kalian jadi anak kebanggaan Bapakmu ini dan Ibumu. Cepat tumbuh
besar dan tambah pintar. Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain.”
Ternyata pria paruh baya itu adalah
Bapak dari Bintang dan Jingga. Panggil saja dengan Pak Surya, lelaki
berperawakan tinggi dengan kumis yang tebal dan uban yang lebat. Empat puluh
tahun telah Pak Surya lewati dengan banyak hal dari mulai masa kecilnya,
bujangnya, menikahnya, sampai merawat kedua belahan hatinya sendiri. Lumayan
banyak cerita hidup Pak Sur yang mungkin kalau dibukukan akan menjadi cerita
yang menarik. Kisahnya mulai terasa indah ketika bertemu dengan pujaan hatinya
kala itu. Pandangan pertama yang ia tahu hanya dari lagu itu ternyata dirinya
merasakannya sendiri. Hatinya jatuh dalam pesona Sang Kembang Desa yang santun
lagi menawan. Ditambah lagi dengan ketaatannya dalam sembahyang membuat Pak Sur
semakin menjadi-jadi rasa cintanya. Jikalau kata pepatah bahwa cinta itu
memabukkan, iya memanglah nyata adanya. Sampai-sampai Si Kembang Desa selalu
membayangi pikiran Si Bujang Surya dahulu. Rupanya Surya muda adalah orang yang
pemalu. Tak pernah berani ia menyatakan perasaan terpendamnya. Cukup menjadi
pengagum rahasia sampai bendungan rasa kagumnya tumpah kemana-mana. Hingga
waktu tak bisa menunggu, ia takut Sang Gadis Salihah itu direnggut oleh orang
lain. Bertemulah mereka di sawah wetan
untuk mencari rumput di pinggir sungai.
Surya memanggil Sang Gadis sambil
berlari kecil ke arahnya, “ Nimas Ayu, Nimas Ayu.”
Gadis itu mencoba mencari dari mana
arah suara itu. Tengok kanan dan kiri tiada dapat ia tahu. Menolehlah ia ke
belakang dengan perlahan. Setengah terkejut dirinya melihat ada pemuda yang
meneriakinya sambil memegang sabit di tangan kanannya. Sontak membuatnya
berlari menjauh karena ia berpikir pemuda tersebut akan berbuat buruk
kepadanya.
Surya tetap memanggil perempuan
itu, “Nimas Ayu, Nimas Ayu.”
“Dhuh Gusti, apa yang Mas mau? Aku
akan pulang. Cepatlah pergi, jangan mengikuti diriku. Niat jahatmu akan ku beri
tahukan seluruh warga desa nanti.” Sahut si Gadis ketakutan.
Kembali Surya berkata, “ Lhoh siapa
yang mau berniat jahat padamu di siang bolong ini Nimas. Aku Cuma ingin
bertanya padamu, itu saja.”
“Lalu buat apa celuritmu kau
sapakan padaku. Kau pikir celurit itu tak tajam? Halah pasti kau berdusta!
Semoga kau dapatkan azab pedih nanti. Asal kau tahu Gustiku tidak pernah
tidur.” Tegas Sang Gadis.
Seakan petir menyambar ruang pikir
Surya mendengar perkataan Sang Gadis akan celurit di tangannya. Tak disangka
hampir dua kali lapangan bola dirinya mengejar sang Gadis. Karena kelelahan ia
putuskan untuk menyudahi pengejaran yang mengalami kesalah pahaman ini.
Surya berbicara pada dirinya
sendiri, “Oalah Surya-Surya, kok aku tadi bawa celurit segala. Pantas saja ia
lari tunggang langgang melihatku. Gagal sudah aku ingin tahu namanya. Bodoh
sekali aku, tenagaku terbuang sia-sia. Dhuh Gusti, mana aku mengejarnya sejauh
ini. Haaaaaahhhhhh, gagal total, gagal total. Ini pasti gara-gara aku tak
bismillah dahulu.”
Menyesal ia bukan kepalang sambil berkali-kali
kakinya ia hentakkan di tanah. Dengan masih bergumam sendirian, Surya kembali
menuju karung tempatnya mengambil rumput untuk kelinci-kelincinya.
Alhamdulillah udah bagian ketiga gaes. Mohon maaf kalau ceritanya agak tidak jelas ya. Namanya baru belajar. :)
Nantikan kelanjutan ceritanya ya. Sampai berjumpa dengan Jingga di Balik Bintang bagian keempat. See you....