Geguritan: Puspa Panca Warna




Puspa Panca Warna

Dening Dhiya Restu Putra

Daksawang akehing wang
Ireng areng
Kemruyuk darik-darik

Tan cetha, ing sisih kana
Saya cetha, ing sisihing wana
Terpal biru kang dadi panyangga
Angiyupi kang nandang dhuh kita

Njur hana ta pethak ngisoring mega
Mega mendhung kumleyang kaya nantang
Dakcedhaki, krungu giro-giro tangis
Mencak-mencak gawe giris

Tangi Pak, Tangi Mak
Aku ra lali, aku ra bisa
Ngogel manahku kaya kesawur watu

Kafan iku katabur puspa panca warna
Salati para sanak tangga
Wusana mangkat, katutup amal ing donya


Juron, 14 April 2020

Mbok Mar Pergi









Mbok Mar Pergi

Yang hidup mati
Yang sehat sakit
Yang muda tua
Yang luas sempit
Yang besar kecil
Yang panjang pendek
Yang kaya miskin
Yang rajin malas
Yang kota desa
Yang maju mundur
Yang cerah padam
Yang padat cair
Yang segar layu
Yang wangi busuk
Yang basah kering
Yang ramai sepi
Yang bahagia murung
Yang suka benci
Yang damai musuh
Yang tinggi rendah
Yang dua satu
Yang ada hilang
Hingga akhirnya
Hingga pangkalnya
Hingga ekornya
YANG DATANG PERGI


Juron, 10 April 2020

Geguritan: Asreping Dalu





Asreping Dalu


Dening Dhiya Restu Putra


Kang ginaris ing kitabing gusti

Nora ana kang bisa mungkasi

Marang apa sing wus pesthi

Mara-mara, ilang dadi sawiji

Adem

Anyep

Athis

Asrep

Peteng

Lintang

Candra

Krik, Jangkrik

Kong, bangkong

Ndhung, mendhung gumantung

Ngin, angin ngrerontog oyoding ringin

Wa, lawa iber angrokot jambu tuwa

Lelara, bebaya moksa musna

Nalika Dalu ngancik wektu telu

Ana manungsa dedonga yuwana


Juron, 2 April 2020

Will You be Mine? (Pendewasaan Usia Perkawinan)


Hai Sobat Genre dimana pun kalian berada. Salam sehat buat kita semua.
Eh, berbicara tentang GenRe nih, sobat sudah tahu kan yang dimaksud dengan GenRe?
Jangan-jangan belum. Heeeemmm. Oke, akan aku jelaskan.

GenRe (Generasi Berencana) adalah suatu program pembinaan remaja yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja melalui wadah PIK R/M dalam rangka mewujudkan Tegar Remaja, yaitu remaja yang berperilaku sehat, terhindar dari risiko Triad KRR, menunda usia pernikahan, mempunyai perencanaan kehidupan berkeluarga untuk mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera serta menjadi contoh, model, idola, dan sumber informasi bagi teman sebayanya.
GenRe sendiri mempunyai delapan substansi yang jadi pedoman lho Sobat. Salah satunya adalah PUP/Pendewasaan Usia Perkawinan. Langsung saja kita bahas ya!

Will you be mine? atau Will you marry me?
Pilih yang mana? Yang kanan atau yang kiri?
Sebenarnya sama saja ya Sobat.
Hehe, terkait kata-kata di atas pastinya Sobat membayangkan sebuah pelaminan yang agung, bertaburan bunga-bunga, duduk di singgasana bak raja dan permaisuri, dikelilingi para dayang, sajian yang sedap dan mewah, musik surgawi mengalun indah di ruang-ruang imaji.

Eh, eh, stop! Malah ngayal. wkwk
Boleh kok ngayal Sobat, tapi jangan berlebihan ya. Gak baik buat kesehatan. Lebih baik bangun, lalu diwujudkan impian itu. 

Asik mungkin ya, melihat sepasang dara bermadu cinta. Apalagi Sobar remaja yang umurnya mendekati  atau sudah legal untuk melaksanakan pernikahan.
Tetapi, sebentar dulu Sobat!
Apakah fisik kita sudah siap?
Apakah psikis kita sudah siap?
Apakah hal-hal yang lain sudah siap?
Hayooo, sudah siap belum Sobat?

Nah, mengenai hal di atas BKKBN punya solusi degan cara Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) yang idealnya para pemuda berkeluarga pada umur 21 tahun (perempuan) dan 25 tahun (laki-laki).

Tapi Mas, kami kan udah siap lahir batin. Toh yang menilai hal tersebut kan kami sendiri.
Benar sekali sobat, tapi PUP ini tidak mungkin dicanangkan jikalau tanpa pengkajian lho Sobat.

Ini Sobat GenRe perlu tahu, mengapa PUP ini sangat penting bagi remaja:

1. Aspek Kesehatan.
    Anak perempuan di bawah usia 21 tahun, contoh pada usia 10-14 tahun memiliki kemungkinan meninggal lima kali lebih besar. Sedangkan, usia 15-19 tahun kemungkinan meninggal dua kali lebih besar. Ngeri ya Sobat. :(
Ditambah lagi pada saat proses kehamilan bisa mengalami aborsi, pre-eklampsia, infeksi, anemia, dan resiko kanker. Ketika proses persalinan tidak kalah berisiko, Sobat. Bisa terjadi prematur, kematian bayi, dan kelainan bawaan.

2. Aspek Ekonomis.
    Ini juga jadi masalah, karena pada umunya para remaja mengalami permasalahan ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan keluarga.

3. Aspek Psikologis.
    Perkawinan di usia muda dapat menimbulkan persoalan dalam rumah tangga. Emosi yang belum stabil, memungkinkan banyaknya pertengkaran atau bentroka  yang berekelanjutan, tentunya mengancam keberlangsungan keluarga.

4. Aspek Pendidikan
    Jika PUP ini terlaksana, maka para remaja akan dapat menganyam pendidikan yang lebih tinggi. 

5. Aspek Kependudukan.
    Pasti Sobat sudah tahu bahwa rakyat Indonesia memiliki jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia. Maka disaat angka kelahiran tidak ditekan, yang ditakutkan adalah membludak dan akan menjadi bom waktu bagi bangsa Indonesia.

Jadi, ada tiga fase masa reproduksi yang harus kita ketahui:
1. Masa Menunda Perkawinan dan Kehamilan (pada usia dibawah 21 tahun)
2. Masa Menjarangkan Kehamilan (Pada usia 21-35 tahun, dengan jarak ideal 5 tahu yang dapat dibantu dengan pemakaian alat kontrasepsi)
3. Masa Mengakhiri Kehamilan (Pada usia di atas 35 tahun, dengan bantuan alat kontrasepsi)


Bagaimana Sobat Genre, sudah tercerahkan belum? Semoga sudah ya. 
Jangan terburu-buru yang Sobat. Siapkan fisik dan psikismu terlebih dahulu! Jangan sampai buah hatimu nanti yang akan merasakan ketidaknyamanan dari orang tuanya.

Kalau masih bingung bisa mengisik kolom komentar di bawah ya!
See you Sobat, nantikan postingan di blog ini selanjutnya.
Salam GenRe. Salaaaaam.


Oh iya, sebenarnya sebelum materi PUP ini ada materi 8 Fungsi Keluarga nih.
Aku share di bawah sini ya posternya. :)


Sumber: Himpunan Materi Program GenRe (BKKBN 2014)

Geguritan: Semar Jaman Saiki (Dies Natalis UNS ke-44)





Semar Jaman Saiki
Dening Dhiya Restu Putra

Siji setengah taun suwine
Paningal nyawang agunging angkasa
Kang gumantung esem gumuyune
Pesthi moksa, nelangsa kuciwa

Kursi, bangku, gedhegmu
Pancen suwe dadi angenku
Dakpengin angrasa asreping dwaramu
Sepisan aja, sateruse kudu

Iber oncat ngisoring giri
Tumuja kitha Surakarta Nagari
Bengawan, banyu keli, anyekseni
Ngangsu kawruh nganti tumekaning pati

Semar, eh Semar
Nyata, Panjenengan boten nem malih
Jejogloanmu, menika kasebar kaya dene wit pari
Kang ditengga uwos, anyingkiri sedhih
Bingah, bebingahipun merak ati

44, yuswamu
44, asmamu
44, kaadegaken taman siswa
Amba sansaya ngrembaka

Sumebyar aruming suka
Nulada lakuning Pandhawa
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Mangesthi Luhur Ambangun Nagara

Wonogiri, 19 Februari 2020

Senja Tanpa Siluet Jingga





Kali ini aku akan tetap bersama Mbok Mar
Entah sampai kapan?
Ku harap lesumu
Tak menyembul dari lesung pipitmu

Hari kedua, aku mengadu padanya
Aduku sopan, sesopan para abdi dalem menghadap rajanya
Aduku lembut, selembut burung pulang menyuapi anaknya

Assalamualaikum,
Mbok Simbok di mana?
Tak sehelai pun suara membisik
Hanya reotan engsel pintu rusak
Terdengar, tertiup angin di balik tegal belakang tembok

Salam terucap kedua kali
Keras, sembari ku masuk, ku injak lantai bertanah
Sopan, tidak?  tidaklah sopan
Aku akan meminta maaf padanya nanti

Inggih, sinten?
Luhung, Mbok.
Tubuh tua berbalut kebaya ungu berenda terduduk ayu
Terduduk ayu di atas amben yang setua dirinya
Memegang kain-kain sisa jemuran
Yang terangkat oleh lengan-lengan saksi waktu
Terpaksa dirumahkan oleh rezeki Tuhan

Hujan basah dan mendesah sekuat tenaga
Tersentuh sapuan hembusan manis
Dan desahan itu semakin kuat
Aku pun ikut mendesah
Dua tangan menyatu, ku gosok, dan ku ababi

Masih saja aku melihatnya berkutat di sela kain mimpi
Jari-jarinya terus menari-nari
Bulu merinding, gigi menggigil, mustahil menginfeksi
Apa saraf rasanya sudah mati?
Bersama pendengaran yang tak semuda dulu lagi
Kulitnya mungkin sudah menjadi saksi
Sepi nanmisteri bumi ini


Lantai 6 Jebres, 3 Februari 2020

Ku Lihat Bulan di Mbok Mar






Berjalan menyusuri sisa-sisan bulan lalu
Ku sangka lama tiada terburu
Dengan takdir-takdir Tuhan yang membumi
Dengan metamorfosa kisah-kisah yang melangitkan diri


Mbok Mar, Mbok yang akan menjadi Ibu sekaligus sahabat kali ini
Ku temukan beliau bukan sengaja
Bukan meminta-minta tapi tersedia
Persimpangan itu menjadi saksi atas kelembutannya


Jikalau tersenyum, kerutan pipinya terlukis
Jikalau tertawa, badannya tergoncang keras bak kena gempa runtuh
Jikalau menangis, basah membanjiri lekukan baju lusuh
Jikalau murung, mendung menyelimuti hulu wajah


Mbok, Mbok Mar, aku akan menyayangimu
Untuk hari bergelayutannya kesedihanmu
Sampai bunga-bunga merekah dari kelopak matamu
Peluk tubuhku dengan kehangatanmu



Jebres, 2 Maret 2020

Jingga di Balik Bintang (Bagian ke-4)




 
Lalu Surya melanjutkan memotong rerumputan di pinggir kali dekat sawah Bapaknya. Segala jenis rumput tak terkecuali menjadi incaran celurit di tangannya. Karung putih itu akhirnya telah penuh terisi. Diikatlah dengan tali raffia yang sedari berangkat tadi telah Surya kantongi di saku. Kaki dan tangan yang tiada luput dari kotornya lumpur persawahan membuatnya memutuskan untuk menceburkan diri ke kali yang sangat jernih di bawah kaki gunung Braja.
 
Surya bergumam dengan lirih, “Sudah lama aku tak mandi di kali ini, mumpung tidak ada orang. Langsung nyebur aja lah. Ku yakin gerah dunia ini akan terobati dengan cepat.”
 
Kaus merah hasil pemberian calon legislatif itu dilepas dan dilemparkannya di bebatuan. Tanpa menunggu aba-aba, terdengarlah gejolak air tertimpa tubuh Surya yang gempal. Byur byur, sungguh bahagia menikmati potongan surga yang  tepat berada di depan mata. Dayung mendayung seluruh tubuh Surya membuat airnya lama kelamaan menjadi keruh. Belum sadar dirinya, belum terasa bahwa sorotan ciptaan Gusti yang namanya sama dengannya mulai meredup. Seketika semilir angina mulai turun dari atas gunung menapaki relif-relif di bawahnya. Sampai di mana si manusia itu berada terdengarlah bisikan mesra.
 
Suara itu terdengar, “ Surya oh Surya, apa kau lupa dengan kelinci-kelincimu, kasihan mereka menunggu kepulanganmu. Cepatlah kembali dengan rumputmu! Hari akan segera berganti, Surya.”
 
Terkejut sekali dengan suara yang mebisikinya. Ternyata Surya sedang tertidur di bawah pohon rindang. Mata yang merah dan wajah kusut mewarnai kisah sore hari ini. Kaus yang hanya ditutupkan ke badannya segara saja ia pakai dengan tergesa-gesa. “Kreeeekkkk”, bunyi kaus yang sobek di bagian ketiak kiri.
 
“Astagfirullah, sobek. Jadi bolong kayak gini kausku. Mana dingin lagi nih ketiak, kasihan si pohon-pohon ketiakku. Hehe.” Semakin menjelang magrib mungkin kewarasan Surya mulai terganggu. Berjalan melangkahkan kaki menuju rumah dengan cepat. Gendongan karung rumput itu di pundaknya di sepanjang jalan. Setibanya di rumah ia tak langsung masuk, menuju ke belakang rumah tempat kandang kelinci-kelincinya berada. Para kelinci mulai heoboh melihat kedatangan tuannya mebawakan kudapan kesukaaan mereka. Kelinci yang sangat lucu dan imut tak heran banyak orang yang membli kelinci-kelinci ini dari Surya. Sampai-sampai anak-anak di kampungnya menjuluki Surya dengan Mas Kelinci. Entah apa karena dia punya banyak kelinci atau mukanya mirip kelinci. Yang pasti dirinya sangat bahagia, karena hamper setiap hari rumahnya tak pernah sepi dari anak-anak kampungnya yang ingin melihat peliharaannya itu.
 
“Makan yang banyak ya kasihku, kelinciku manisku, pujaan hatiku. Kau yang selalu ada di hidupku. Nah kan mulai gak waras lagi aku. Bersihin badan dulu ah. Sampai jumpa esok ya, Bunga Hatiku.” Katanya sambil berjalan menuju kamar mandi.
 
Setelah selesai, satu keluarga ini berjalan menuju langgar untuk menemuai panggilan Tuhan. Gusti Allah yang selalu mengingatkan bahwa hidup itu punya waktu. Hidup punya waktu, waktu untuk menikmati dunia dan esok yang fana. Seperti biasa sosok yang paling getol mengangtkan seisi rumah untuk selalu bersembahyang tiada lain iya Surya muda. Mungkin hal ini telah mendarah daging dalam dirinya. Ketika sewaktu kecil ia ingat betapa amarah Bapak dan Ibunya yang menggebu-gebu saat balighnya lupa menunaikan perintah-Nya. Lalu, sejenak ia berpikir. Kedua orang tuanya saja melihatnya tidak salat sebegitu marah sekali. Apalagi Sang Pencipta alam semesta jika mengetahui ciptaan-Nya lalai akan kewajiban-Nya.
 
Langgar Ar-Rohim adalah masjid kecil tapi syukur terucap dengan banyaknya jamaah. Muda sampai tua tak pernah absen untuk sembahyang. Riuh anak-anak kecil pun tak luluh terdengar. Walau suara bisingnya memenuhi langit-langit masjid. Suara teriakan, tawa,  kaki terinjak, badan terjatuh, bahkan tangisan semua menyatu mengeruhkan suara takbir imam. Sampai salam juga bising itu tak kunjung diam. Tapi begitulah anak-anak, bersyukur mereka sudah dibiasakan pergi ke masjid sedari kecil. Hal yang penting untuk membiasakan anak melakukan suatu kebaikan.
 
Bakda salat isya para jamaah tak langsung beranjak dari tempat mereka bersila. Seorang berbaju serba putih dan jenggot yang telah memutih itu berdiri tegap mencari celah untuk kedepan Bapak/Ibu jamaah. Bapak itu adalah Bapak Haji Mahmud, ustadz dari desa tetangga yang sering kali diundang takmir untuk memberikan tausiyah setiap malam Jumat. Lajunya ia imbangi dengan tolehan kanan dan kiri sembari menyalami setip orang yang dilewatinya.
 
Pak Haji membuka tausiyahnya dengan salam, “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”
 
Dilanjutkannya dengan ucapan syukur ats kesempatan nikmat dan hidayah-nya serta salawat kepada Nabi. Pada malam ini beliau bercerita tentang Islam yang damai. Betapa agama ini berabad-abad lalu diajarkan bahwa islam yang haqiqi adalah islam yang selalu menjaga perdamaian dan kebaikan. Bukan malah ikut-ikutan tersulut api amarah, karena itulah yang dimau si orang jahat ini. Alangkah sangat indah semua agam di dunia ini hidup berdampingan dengan rasa toleransi yang tnggi sesuai batasan agama masing-masing.
 
Celetuk salah satu jamaah, “Tapi jikalau mereka yang mulai duluan Pak Haji?”
 
“ Kuncinya sabar Mas. Jangan lah kita mudah terbakar. Gusti Allah saja mudah untuk mengampuni hambanya. Masak kita yang hanya sebatas hambanya tak mampu. Tapi kalau dia terlalu berlebihan. Ajaklah ia bertatap muka dengan cara yang santun, nasihatilah dia! Jangan kau nasihati di tempat umum! Sama sahaja kau mempermalukannya.” Pak Haji menjawab dengan lembut.
 
Satu jam tausiyah rutinan itu berlalu. Pulanglah satu demi satu orang-orang di dalamnya menyisakan langgar dengan lampu yang remang diirngi desiran jangkrik malam. Sungguh syahdu malam itu, menutup hari dengan jutaan bintang yang bertaburan di angkasa.
 
“Gusti, kami bersyukur atas nikmat yang telah lalu dan yang akan dating. Berkahilah waktu kami. Esok, aku serahkan garisan hidup kami kepada Engkau dengan tulus hati. Jauhkanlah kami dari segala mara bahaya dan kepung kami dengan ribuan kebaikan. Sungguh kisah manusia siapa yang tahu? Hanya usaha, doa, dan selanjutnya biarkan bumi dan semesta merekamnya.” Doa Surya dalam hati.

Keluarga Surya kembali memasuki rumah gedheg mereka. Ditaruhkannya sajadah di atas meja. Dicantelkannya peci hitam di paku yang terpaku di tiang rumah. Begitu pun Bapak dan Ibunya. Mereka menggantikan pakaian khusus menemui Gusti Allah dengan pakaian usang yang banyak robek sana-sini dan tlutuh getah tanaman-tanaman sawah.

“Lhe, wis gek turua! Biar besuk bisa bangun pagi. Bapa dan Ibu butuh bantuanmu di sawah Bolabang sana.” Berkata ibu Surya.

“Inggih Ibu. Saya segera tidur. Ini mau ganti baju dulu, wudu, lalu langsung tidur.” Sahut Surya kepada ibunya.

Terlelaplah seisi desa dengan hanya bertemankan lampu tintir yang asapnya memenuhi kamar-kamar. Lampu tintir yang setiap ada angin besar masuk di sela-sela gedheg siap terhembus dan mati kapan pun. Apalagi kalau minyak tanah di dalamnya habis. Bisa gelap padam semalam utuh. Makhluk-makhluk Tuhan yang ketika siang mereka bersembunyi, kini menampakkan wajahnya. Sungguh Gusti Allah menciptakan semesta dengan bagian dan peranan masing-masing yang tak pernah merugikan satu sama lain. Yang ada untuk dimengerti dan disyukuri.  


Puisi : Senja Itu

Senja itu anaknya mesen dan jajan yang dipinta mengucap jumpa untuk dirasa dan  dicinta lalu dibayar kepada yang mencipta.  Restueltungguri,...